Tulisan ini hanyalah sekelumit perjalanan hijrahku ke bumi Gorontalo, dalam rangka menjalankan tugas sebagai CPNS BPS(Badan Pusat Statistik) sekaligus perjalanan pertamaku meniti kehidupan baru di atas kaki sendiri dan melanjutkan episode-episode yang harus aku perankan sebagai manusia biasa yang harus masih banyak belajar.
Kenapa harus Gorontalo?
Pada awalnya aku senang dengan keputusan awal BPS bahwa mahasiswa STIS angkatan ke-12(AIS 47) akan ditempatkan tanpa sebuah pilihan. Kenapa aku lebih suka tanpa pilihan? Aku mengambil dari sebuah hadist yang kira-kira maksudnya seperti ini:
“Barang siapa berambisi untuk mendapatkan sesuatu (bisa jabatan atau posisi), maka segala masalah dan tanggung jawab dari apa yang menjadi pilihan bersebut akan Allah bebankan seluruhnya dipundakmu (Allah tidak akan campur tangan sedikitpun), akan tetapi jikalau kamu tidak berambisi terhadap sesuatu itu dan menjadikan itu sebagai amanah Allah atas dirimu, maka segala masalah yang menyangkut amanah itu, Allah akan ikut campur didalamnya”.
Selain itu aku juga ingin belajar menerima apapun bentuk pemberian Allah, dengan ridho tanpa syarat apapun. Karena sesungguhnya semua pemberian Allah itu baik. Walau terkadang kebanyakan manusia terburu-buru salah menilainya kemudian salah menyikapinya.
Akan tetapi tiba-tiba muncul kebijakan pimpinan agar mahasiswa diberi kebebasan untuk menentukan pilihan sesuai kuota yang sudah tersedia dan semua kuota harus diisi. Tentunya pertimbangan penempatan akan ditentukan berdasarkan nilai IPK, pertimbangan putra daerah dan pertimbangan lainnya. Dengan memohon petunjuk Allah SWT jatuhlah pilihan pertamaku di Gorontalo dengan pertimbangan awal bahwa Gorontalo dikenal sebagai daerah dengan mayoritas muslim, wilayah yang cukup maju dan lingkungannya yang nyaman. Harapanku cuman satu, hanya menginginkan yang terbaik menurut Allah. Karena yang terbaik menurut Allah pasti yang terbaik menurut kita, yang mendatangkan kebaikan untuk agama, kehidupan, keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Dan Alhamdulilah sampai detik ini aku nyaman di Gorontalo. Hal-hal yang menjadi pertimbangan awalpun ternyata juga tidak salah.
Good bye Jakarta..
18 februari 2010, 12.00 WIB starting via taxi menuju Bandara Soekarno Hatta, tepatnya pintu 1B. Dimulai dengan menunjukkan tiket di pintu masuk penumpang, pengecekan barang-barang kemudian menimbang barang bagasi (kelebihan barang bagasi untuk Sriwijawa Air 22 ribu/kilo, sedangkan Pesawat Garuda bisa mencapai 70ribu/kilo). Kemudian kita membayar boarding pass untuk menuju tempat ruang tunggu. Dan ternyata tidak hanya kereta, pesawat pun terlambat dua jam sudah biasa.
Detik-detik menunggu pesawat mengingatkanku akan masa-masa magradika, saat-saat belajar menembus UAS, kompre dan skripsi, semua itu masih tergambar jelas, masih terasa betul saat-saat pertama kali datang untuk belajar di Jakarta, namun terasa begitu cepat semuanya berlalu.
Sambil kupandangi Jakarta dari sebuah jendela, berangsur-angsur semakin jauh dan mengecil, membiru dan tampaklah sebuah hamparan laut yang luas, dan sampailah di Makasar, karena kita harus transit untuk melanjutkan perjalanan ke Gorontalo, Take off dan landing di saat cuaca buruk ternyata lebih menegangkan dari pada naik korah-korah, kicir-kicir atau tornado.
Sesampainya di Gorontalo kami langsung dijemput(19.00 WITA), dengan berkendaraan kijang tahun **an (mas pras menyebutnya dengan odong-odong), dengan bermodalkan lampu depan saja itupun mati sebelah, ditambah dengan goncangan yang kuat serasa pacuan kuda. Satu jam kemudian, DUARR!!!, ban belakang pecah, hampir dan hampir menabrak mobil avanza yang masih kinclong. Entah mungkin lain ceritanya seandainya kijang kami “berciuman” dengan itu avanza.
Tak lama kemudian datang mobil jemputan kedua, kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Sesampai dirumah dinas, suasana sangat meriah tapi sedikit ada yang kurang karena bapak kepala BPS Provinsi keburu pulang karena terlalu lama menunggu kami(maaf y pak?).
Wolulu habari??
Wolulu habari?? Pyu Phiyu hu.. (Pa kabar? Bae’2 ja). Nah lu jauh banget kan ama bahasa indonesia so makanya kitorang roming banget klo ada orang dialog pake bahasa asli gorontalo.
19 februari 2010 pagi kami silaturahim ke BPS Provinsi Gorontalo mengurus dokumen kelengkapan dan berkenalan dengan karyawan-karyawan disana. Capek belum hilang, sorenya kami langsung mempersiapkan sosialisasi SP2010 menuju kecamatan terjauh di Kabupaten Gorontalo Utara. Lima jam perjalanan mengantarkan kami di kecamatan Tolinggula, dengan melewati lukisan ilahi keelekokan pesisir pantai tak bernama, begitu indah, bersih (bersih dari sampah dan manusia, ^_^).
Acara demi acara sosialisasi SP dimulai, aku pun ikut memeriahkan permainan bola dangdut di sebuah lapangan yang boleh dibilang banyak “ranjau”, maklum karena biasa dipakai untuk menggembala sapi. Makin malam makin meriah, persembahan dari kepala desapun justru makin menghidupkan malam-malam puncak acara.
Rutinitas di BPS Provinsi selama dua minggu sangat sederhana namun berjuta kesan, bangun pagi makan menu wajib nasi kuning dengan harga berkisar 2-3ribuan, Jam istirahat kami sering diajak berkuliner ke mulai dari coto makasar ampe berbagai macam jenis ikan bakar. Sedang untuk makan malamnya terkadang bakar ikan sendiri terkadang juga berkuliner di luar.
Ada apa di Gorontalo?
Mall ada tapi kecil, yang gedhe katanya sih 2012 sudah jadi, super market dan tempat belanja sudah ada dan juga lumayan murah dan lengkap. Bioskop belum ada. Tempat rekreasi kebanyakan berupa pantai.
Yang menarik dari bangunan di Gorontalo itu jarang bahkan nyaris tidak ada rumah beratap genting. Survey yang telah saya lakukan dari 30 sampel dengan metode SRS, (halah…) Kenapa tidak ada rumah beratap genting karena:
- Kata orang-orang tua dulu “masih hidup kok sudah beratap tanah?.
- Kondisi geografis Gorontalo yang rawan akan gempa.
- Emang karena tanah di Gorontalo tidak cocok untuk dibuat genting.
- Lainnya menjawab abstain wahaha..
Disini amat jarang pekuburan umum, kebanyakan dikubur disamping rumah, ya kaya taman gitu jadinya. Muslim disini mayoritas, banyak masjid, anjing juga banyak berkeliaran tapi jinak dan tidak mengganggu, katanya sih untuk menjaga hasil panen.
Makanan mayoritas seafood, hamper samalah dengan makanan jawa, mungkin bedanya kalau di Gorontalo harus ada menu wajib tambahan yaitu dabu-dabu (sambal khas gorontalo, pedasnya minta ampun dah..) Sayur kebanyakan kangkung dan pki-poki(terong), yang dimasak batang kangkungnya lho, daun kangkung gak laku disini.
Perkampungan jawa di Gorontalo juga banyak, kebanyakan mereka disini sukses jadi pebisnis dan pedagang. Mungkin banyak hal yang belum ku ketahui di Gorontalo. Insya Allah jikalau ada sesuatu yang menarik atau hal yang baru bagiku, tulisan ini akan berlanjut.
Sabtu, 03 April 2010
Hijrah di bumi Gorontalo
Selasa, 18 November 2008
sepi dalam keramaian..
Sepulang dari kampus seperti biasa gw langsung meluncur ke apartemen tercinta, MTA Ceria..
"GROERRKKHRR!! teriak pintu gerbang kosan yang udah karatan kena ujan semalaman.. sesampai didepan pintu kamarku terdengar satuy2 2 orang yang lage syik ngobrol, oww.. enak nii temen2 lg ngobrol jd bisa nimbrung bareng.. kan tiap hari gw punya segudang cerita tiada akhir...
aduh!! teriak tas kesayangan saat kulempar di tempat biasa kumenarohnya..kugantungkan PDA baju lambang kesombonganku di lemari bersama kawan2 PDA ku yg laen..
terperanjat dan begitu kecewa ternyata kedua temenku lagi asyik ngobrol dengan soulmate2ny..
yeaa..jam segini KBUnya(Kamar Bicara Umum) uda buka..
yah..gpp asal mereka bahagia, gw jg bahagia.. chie..
oy kan dikamar sebelah masih ada Asw..jd masih ada temen yang mo diajak ngobrol..
saat ku mendekati kamarnya terdengar rintihan suara di kegelapan....
apakah ni petanda buruk?? semoga j tidak kawan...
saat kubuka pintu kamarnya, terbujur kaku sosok kawanku dengan senyum yang g' jelas2 gtu..he.. ternyata tak jaoh beda dengan temen2 skamarku...
fyuuuuh.. lagi2 telfon ma kekasihnya(Mrs RN)...
Ting!!!!..
ahaaa kan di kamar atas masih ada misW ma ricky..
Pasti mereka lgi bikin program(gumamku dalam hati...)
dengan langkah sejuta harap kunaiki tangga step by step...
tangga pertama lewat..
masih ada 1 tangga lagi yang musti gw taklukkan, SemaNGAT!!! Chayooo!! ha.. kaya' apa j..
dan Sesampainya tangga kedua.. tak nampak ada tanda2 kehidupan...
hanya terlihat bayangan hitam kelam di kursi busa lantai dua..
siapakah diaaa....
berat langkah ini saat mendekatinya.. dan perlahan kuatur alur nafasku walopun sedikit terengah- engah..
bayangan hitam itu menatap tajam seraya berkata" baru pulang dare kampus bro.."
hah... tak kusangka, takkuduga, Miss jg jg lge telfon... pasti ma Tse_CAre.. Cape de....
o' ooo masih ada 1 lagi, disebelah tempat duduk misw berdiri sebongkah pintu dengan sinar lampu dan alunan musik sloww di dalamnya.. ni Ricky pasti lage dengar music Beautiful Girl sambil manggut2... langsung kubuka j pintu kamar lantai 2..
ternyata dugaanku benar, tapi ada yang sedikit berbeda..
terlihat ada benang hitam yang terhubung dari N70 ke telingany yang dengannya bisa ngebuat bibirnya bercetloteh dengan wanita pujaannya(Mrs.DN)..
WAAAA!!! PADA TELPON SEMUWA!!!!
gagal maning... GAgal MAning....
wahai bapak/ibu manager operator...!!
mending tarif telpon dinaekin j..!! hehe..
Pengantar
Suara Hati....
Blog ini aku namakan dengan "suara hati", karena hati adalah raja, siapa yang bisa mendengar dan mengikuti "suaranya", dialah yang akan selamat, tentunya hati disini adalah hati yang diliputi dengan cahaya iman, cahaya-Nya selalu membawa kepada Cahaya. Dengarlah suara hatimu, hati yang diliputi dengan Nur Rosulullah SAW..
Blog ini akan kuisi dengan segudang motivasi, inspirasi, cerita pribadi nan unik penuh isi, mutiara dan curahan hati serta sejuta kata bijak hari ini...
Apa-apa yang aku tulis hari ini adalah apa-apa yang aku anggap benar hari ini,tentunya aku akan terus belajar karena belajar adalah salah satu jalan menuju-Nya, belajar adalah sebuah kewajiban mulai dari alam kandungan s.d masuk kuburan..
Semoga tulisan2 di Blog ini bermanfaat.. aamiin..